Implementasi Iqra’, Mereduksi Hoax, Menghilangkan Budaya “jarene”

Setiap tanggal 8 September pegiat literasi selalu merayakan hari literasi internasional, peringatan ini berawal sejak diadakannya konferensi tentang Pemberantasan Buta Huruf, di Teheran, Iran, pada tanggal 8-19 September 1965. Konferensi tersebut dilakukan untuk mewujudkan masyarakat untuk peduli terhadap penuntasan buta aksara.

Bagi pelajar, hari bersejarah ini sering dilupakan karena dianggap bahwa hari yang hanya sedikit menorehkan sebuah sejarah dalam kehidupan pelajar. Padahal jauh daripada itu, ketika literasi dipelajari lebih jauh ternyata banyak hal yang dapat diambil dari sejarah tanggal 8 september tersebut. Dimana hari yang dinobatkan sebagai hari literasi internasional.

Berbicara tentang literasi menjadi hal yang vital dalam mengarungi sebuah kehidupan. Namun, sudah sejauh mana literasi itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari hari.

Sebagai dasar dalam literasi, bisa dilihat bagaimana sejarah pertama kali turunnya kitab suci Al Quran kepada manusia pilihan Allah, dia adalah Rasulullah SAW. Didalam sebuah sejarah, diceritakan ketika Rasulullah menerima wahyu pertama kali didalam gua hira’ wahyu yang pertama kali Allah turunkan adalah kata Iqra’ yang artinya bacalah. Dari peristiwa tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa membaca adalah hal yang pertama kali Allah perintahkan kepada semua manusia selaku hamba Allah dengan perantara wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah.

Idealnya masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam ini menjadi pelopor untuk negara lain dalam hal literasi. Namun, berdasarkan data dari UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, bisa dimaknai minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Dapat diartikan, bahwa dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Sementara itu Riset bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak diantara masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam ini sudah tidak memperhatikan tentang pentingnya membaca. Sampai hal ketidaktauan itu menjadi hal yang biasa dalam kehidupan, Artinya apa? Hari ini banyak orang yang tidak tau kebenaran yang sesungguhnya namun dia selalu mempercayai hal yang ada disekitarnya, yang menjadi kekhawatiran selanjutnya adalah banyak orang yang membenarkan hal yang belum tentu kebenarannya namun dengan keyakinan bahwa hal yang menjadi sebuah kebiasaan yang diulang ulang itu menjadi suatu kebenaran meskipun tanpa ada dalil atau teori yang mendasarinya.

Dengan minimnya minat membaca ditambah cepatnya arus informasi di era 4.0 ini menjadi ancaman luar biasa di negeri ini, jika ini tidak segera diantisipasi dengan baik maka dikemudian hari akan menjadi bom waktu yang akan memporak-porandakan negeri yang indah ini.

Semoga dengan mementum hari literasi internasional yang ke 55 tahun ini tidak hanya sebatas ceremonial semata, Namun mari kita jadikan momentum ini sebagai moment untuk merefleksi dan mengevaluasi apa yang dilakukan dalam dunia literasi yang hari ini dibanjiri arus informasi yang begitu dahsyat.

Oleh: Mazroatul Khoiroh Ummah (Kader IPM MUH1BA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *