Mengenal Sosok Mundakir, Rektor Baru UM Surabaya Alumni SMA Muhammadiyah 1 Babat
Sosok Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep. tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan akademisi dan warga Muhammadiyah. Pria kelahiran Lamongan, 23 Maret 1974 ini baru saja diamanahi sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya periode 2024–2028. Di balik pencapaiannya yang gemilang, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang anak desa yang berangkat dari kesederhanaan hingga menapaki tangga tertinggi di dunia pendidikan tinggi Muhammadiyah.
Mundakir lahir dan tumbuh di Desa Gendongkulon, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Ia berasal dari keluarga sederhana; ayahnya bekerja sebagai buruh serabutan di sawah orang, sementara ibunya berjualan sayur di pasar. Kehidupan ekonomi keluarga yang serba terbatas tak membuatnya menyerah. Sejak kecil ia terbiasa hidup mandiri dan penuh tanggung jawab. Jarak yang jauh menuju sekolah tidak menjadi penghalang baginya untuk menuntut ilmu. Ia berjalan kaki setiap hari, sembari tetap membantu orang tuanya selepas sekolah.
Masa remaja Mundakir dijalani di SMA Muhammadiyah 1 Babat, sebuah sekolah yang dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan unggulan di wilayah Lamongan. Di sekolah inilah pondasi karakter dan spiritualitasnya mulai terbentuk dengan kuat. Lingkungan sekolah yang disiplin, religius, dan berlandaskan nilai-nilai Muhammadiyah menjadi bekal berharga dalam membangun kepribadiannya. Di bangku SMA pula, ia mulai aktif dalam kegiatan organisasi dan keislaman, yang menumbuhkan jiwa kepemimpinan serta semangat dakwah.
SMA Muhammadiyah 1 Babat memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir dan pandangan hidupnya. Semangat “berkemajuan” yang menjadi ciri khas Muhammadiyah turut menginspirasi Mundakir untuk terus belajar dan berjuang. Ia tumbuh dengan kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya untuk mengubah nasib pribadi, tetapi juga sebagai jalan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Setelah lulus sekitar tahun 1993, ia sempat berhenti sejenak dari dunia pendidikan karena keterbatasan ekonomi, namun tekadnya untuk melanjutkan studi tidak pernah padam.
Beberapa tahun kemudian, ia merantau ke Surabaya. Di kota inilah perjuangan beratnya dimulai. Mundakir bekerja serabutan: menjadi buruh proyek rel kereta api, pekerja pabrik kayu, hingga tukang potong rambut. Semua pekerjaan itu ia lakukan demi mengumpulkan biaya kuliah. Setelah cukup menabung, ia akhirnya diterima di Universitas Muhammadiyah Surabaya dan menyelesaikan pendidikan Diploma III Keperawatan pada tahun 1998.
Langkahnya tak berhenti di situ. Ia kemudian melanjutkan ke jenjang Sarjana Keperawatan di Universitas Airlangga, lalu Magister Keperawatan di Universitas Indonesia, dan meraih gelar Doktor Keperawatan di Universitas Airlangga pada tahun 2017. Dari sinilah kiprahnya di dunia akademik semakin berkembang. Mundakir dipercaya menjadi dosen, kemudian Kepala Program Studi S1 Keperawatan, Wakil Dekan, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, hingga akhirnya menjabat sebagai Wakil Rektor IV yang membidangi kerja sama, digitalisasi, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan.
Pada tahun 2024, dedikasi panjang dan integritasnya mengantarkan Mundakir di puncak karier akademik. Ia resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya. Jabatan ini bukan sekadar penghargaan atas prestasi, tetapi juga amanah besar untuk membawa kampus Muhammadiyah menuju era baru. Dalam kepemimpinannya, ia berkomitmen menjadikan UM Surabaya sebagai kampus unggul, inovatif, dan berkarakter Islami. Fokusnya tertuju pada penguatan digitalisasi, peningkatan kerja sama global, serta penguatan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan di seluruh aspek akademik.
Bagi warga Muhammadiyah, khususnya alumni SMA Muhammadiyah 1 Babat, terpilihnya Mundakir sebagai rektor UM Surabaya menjadi kebanggaan tersendiri. Ia menjadi bukti nyata bahwa alumni sekolah tersebut mampu berkiprah di tingkat nasional, bahkan menjadi panutan bagi generasi muda. Mundakir sering menyebut bahwa nilai-nilai yang ia dapatkan di SMA Muhammadiyah 1 Babat masih melekat hingga kini — kedisiplinan, kemandirian, dan semangat berjuang dalam jalan dakwah.
Perjalanan hidup Mundakir mengajarkan bahwa kesuksesan tidak ditentukan oleh asal-usul atau kondisi ekonomi, melainkan oleh kerja keras, ketekunan, dan niat yang tulus untuk terus belajar. Dari lorong-lorong desa di Babat hingga gedung rektorat di Surabaya, kisah hidupnya adalah potret nyata tentang perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian. Ia membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah nasib sekaligus memberi manfaat bagi sesama.
Kini, Mundakir bukan hanya menjadi inspirasi bagi civitas akademika UM Surabaya, tetapi juga menjadi teladan bagi para pelajar Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Dari bangku SMA Muhammadiyah 1 Babat, lahirlah seorang pemimpin yang membuktikan bahwa semangat keislaman dan kerja keras dapat membawa seseorang mencapai puncak prestasi tertinggi.
AL MUH1BA |
Tim Media MUH1BA |
19 Oct 2025